Menu

Mode Gelap

Politik Pemerintahan · 20 Agu 2026 WITA

Dosa Jariah di Dunia Maya, Oleh: Mustamin Raga_ (Penulis Buku Topeng-Topeng)


					Dosa Jariah di Dunia Maya, Oleh: Mustamin Raga_ (Penulis Buku Topeng-Topeng) Perbesar

 

Gowa, baktionline.id

Di masa ketika jari menjadi lidah dan layar menjadi mimbar, dunia tak lagi terbagi antara yang nyata dan yang maya. Ia kini satu tubuh besar bernama realitas digital, tempat setiap kata bergetar lebih lama daripada suara di lembah paling sunyi. Di sanalah, di jagat tanpa dinding pemisah dan batas waktu itu, manusia menanam sesuatu yang tak selalu disadarinya, yakni amal jariah atau dosa jariah.

Dulu, ketika seseorang ingin menebar kebaikan, ia harus turun ke jalan, menolong yang lapar, membangun masjid, menulis buku, atau mengajar anak-anak kecil di surau dan di pelosok. Begitu pula yang ingin menebar keburukan, harus berbuat dengan tangan, lidah, atau kelakuan. Tapi kini, satu kali layar disentuh, satu unggahan, satu komentar, maka dunia berguncang, dan riak digitalnya bisa menjelma pahala yang mengalir… atau dosa yang tak akan berhenti.

Kita saat ini hidup di zaman di mana dosa bisa dikirim lewat sinyal. Sebuah fitnah yang disebar di sebuaj grup WA, bisa menjelma menjadi bara kecil yang membakar silaturahmi tiga generasi. Sebuah komentar yang mencela, bisa jadi luka batin yang mengubah arah hidup seseorang. Dan parahnya, semua itu tertinggal, disalin, dibagikan, dikutip, discreenshot menjadi artefak kejahatan yang hidup lebih panjang daripada umur kita sendiri.

Maka lahirlah dosa jariah, sebuah ironi dari amal jariah yang dulu kita agung-agungkan. Jika amal jariah adalah sungai yang mengalirkan kesejukan bahkan setelah kita mati, maka dosa jariah adalah parit busuk yang terus memuntahkan bau meski jasad kita telah ditutup tanah.

Bayangkan sebuah unggahan yang membuka aib seseorang. Ribuan orang membaca, sebagian menertawakan, sebagian membenarkan. Setiap klik, setiap share, setiap emoji tawa adalah butiran kecil dari dosa yang berpindah dan membesar. Si pembuka aib mungkin telah lupa, atau mungkin telah mati. Tapi unggahannya masih beredar, beranak pinak dalam server yang tak mengenal ajal. Di situlah dosa berlipat lipat tanpa jeda, tanpa rem, tanpa istigfar yang mampu mengejarnya.

Kita sering menyangka dunia maya hanyalah tempat bercanda, pelarian, atau hiburan. Padahal, di mata malaikat, tak ada dunia maya. Yang ada hanyalah catatan amal yang tak mengenal “hapus permanen”. Tombol delete yang kita tekan hanya menghapus dari layar, bukan dari lauh mahfuz. Karena di alam catatan itu, tak ada yang benar-benar lenyap.

Mungkin inilah zaman di mana manusia diuji bukan lagi oleh pedang atau harta, melainkan oleh jemari dan ego. Di zaman ini, kesabaran diukur dari seberapa lama kita menahan diri untuk tidak berkomentar. Kearifan diukur dari keberanian untuk tidak membalas. Dan iman diukur dari kemampuan kita menahan keinginan untuk menjadi hakim di kolom komentar.

Betapa banyak orang yang niatnya baik, namun caranya buruk. Ia merasa sedang menegakkan kebenaran, padahal sedang menebar kebencian. Ia menyangka sedang berdakwah, padahal sedang mempermalukan. Ia percaya sedang membela agama, padahal sedang merusak martabat orang lain.

Dosa jariah lahir dari niat yang bercampur ego, dari kebenaran yang disampaikan tanpa kasih, dari nasihat yang dikirim tanpa empati.

Dunia maya memberi manusia dua wajah, yakni wajah yang ingin dilihat, dan wajah yang tersembunyi. Di sanalah kita diuji apakah yang kita tulis adalah cermin dari hati, atau sekedar topeng dari kehausan untuk dilihat benar.

Betapa banyak yang menulis kebaikan, tapi hatinya kotor oleh riya. Betapa banyak yang menulis keburukan, tapi hatinya sebenarnya hanya sedang terluka. Maka dunia maya adalah taman yang indah namun beracun; siapa yang tak berhati-hati, akan menanam racun untuk dirinya sendiri.

Kita sering lupa bahwa setiap kata adalah benih. Ia bisa tumbuh menjadi pohon kebaikan, atau duri yang menusuk generasi setelah kita.
Postingan kita hidup, bahkan setelah kita mati. Ia bisa menjadi doa yang terus dipetik, atau kutukan yang terus berbuah.

Bayangkan, di alam kubur, seseorang yang tak pernah lagi bersuara di dunia, namun dosanya terus berjalan karena unggahannya masih beredar, fitnahnya masih dipercaya, caciannya masih dikutip. Ia mati, tapi lisannya masih hidup. Ia diam, tapi lukanya masih menetes di hati orang lain.

Maka, sebelum menulis, tanyakan pada diri sendiri: Apakah yang akan kutulis ini menyejukkan atau menyulut api?
Apakah ia mengobati luka, atau menambah perih?
Apakah ia membangun, atau meruntuhkan martabat? Apakah aku sedang berbicara karena cinta, atau karena ingin menang dan dipuja? Karena dunia maya bukan ruang kosong. Ia adalah ruang spiritual yang luas, tempat setiap kata menjadi amal atau dosa. Dan sungguh, betapa menakutkannya jika dosa itu tidak berhenti meski kita telah berhenti bernapas.

Zaman ini adalah zaman ketika tangan harus punya iman.
Ketika jari harus punya zikir. Ketika posting harus punya niat. Kita tidak sedang bercanda di dunia maya melainkan kita sedang menulis sejarah rohani kita sendiri. Dan barangkali, di hari nanti, ketika semua layar padam dan semua server terbakar, kita akan diminta pertanggungjawaban:
“Apa yang telah engkau tulis dengan jarimu?”

Maka berbahagialah mereka yang menulis untuk menyalakan terang. Dan berhati-hatilah mereka yang menulis untuk menyalakan api. Sebab di dunia digital yang tak pernah tidur ini, amal dan dosa, keduanya mengalir tanpa batas, tanpa akhir.
( Bawa Karaeng, Isra)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

isra ds badge-check

Wartawan

Baca Lainnya

Bantuan Pangan di Gowa, Mulai Disalurkan, Bupati Talenrang Pastikan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026 - 00:34 WITA

Perumda Tirta Jeneberang Gowa Semarakkan HUT RI, Tiga Hari Penuh Kebersamaan dan Kemeriahan

17 Agustus 2026 - 23:49 WITA

Penurunan Bendera HUT RI Sukses, Bupati Gowa Sebut Paskibraka Tuntaskan Tugas dengan Baik

17 Agustus 2026 - 07:13 WITA

Wabup Gowa Hadiri Ijtima Tahunan Umat Islam Kawasan Indonesia Timur

17 Agustus 2026 - 07:10 WITA

Peringatan HUT Ke-81 RI di Gowa Berlangsung Sukses dan Lancar

17 Agustus 2026 - 01:13 WITA

HUT Ke-81 RI, Sekda Gowa Tekankan Semangat Nasionalisme dan Integritas ASN

17 Agustus 2026 - 00:15 WITA

Trending di Politik Pemerintahan