Menu

Mode Gelap

Budaya ยท 7 Nov 2023 WITA

Pesan Cinta Dari Pakacapi


 Pesan Cinta Dari Pakacapi Perbesar

Gowa baktionline.id

Alat musik Kacapi adalah alat musik yang berasal dari Makassar di mana awal kisahnya dari seorang Pelaut yang tengah diterjang badai saat itu ia melihat tali layar perahunya (pinisi) mengeluarkan suara akibat hempasan angin.Tali layar perahunya dihempas oleh angin sehingga menimbulkan suara, hingga ia mendapatkan ide untuk membuat alat musik setelah kembali dari berlayar. Kacapi pertama dibuat dari dayung perahu dengan memberinya 2 tali (senar) untuk membantu agar suara yang dihasilkan lebih besar, maka diberi Tempurung Kelapa pada badan Kacapi. Akan tetapi karena ingin terlihat memiliki unsur seni dan tidak lepas dari ciri khas Makassar maka dayung tersebut di bentuk agar menyerupai perahu pinisi,

ungkap.
Rahmat Daeng Kulle selaku
Narasumber.

Ada 12 lagu Kacapi Lagu itu dalam bahasa makassar disebut Kelong. Lagu kacapi itu berbeda-beda ada yang disebut remba-rembaya, Daeng Le, Andi Le’, Bombongna l sanabo, l Lolo gading dan ada pula yang berjudul Basse Boddong.

Dalam satu lagu dapat menghasilkan seribu nyanyian di mana awalnya sama, namun pertengahan dan akhir lagu berbeda. Di sebutkan dalam lagu saat hendak meninggalkan rumah, membawa dua adat yang melekat pada diri kita dan adat yang tetap berlaku tempat orang. Jika adat tak lagi berpijak pada kebenaran, maka kitalah yang harus mengembalikan di mana adat pada fitrahnya. Itulah dasarnya, tapi sekarang banyak yang tahu tapi tidak paham. Sementara sesuatu yang diketahui maka harus dipahami, karena kalau hanya tahu tapi tidak paham, maka akan menemukan maksudnya. Namun ketika yang “tersembunyi” itu dicari pasti akan ditemukan karena setiap nyanyian itu ada maknanya,
ungkap.
Dg.Tola, selaku
Narasumber.

Ketika kita memakai alat tradisi tentu kita mengingatkan sejarah Karena hal ini yang penting sebenarnya bahwa sejarah kebudayaan kita terselip di sana meski tidak dijelaskan pada orang tapi ia akan tahu bahwa ini dari Sulawesi Selatan.

Dari segi bentuk kacapi ini tidak terhenti di zamannya tetapi mampu untuk ikut dalam perkembangan zaman, jadi kalau menganggap bahwa alat musik tradisional ketinggalan zaman, saya menganggap itu salah dan kami para pekerja seni justru menganggap alat musik tradisional kita itu unik dan dapat dapat berkolaborasi dengan alat musik modern apa pun termasuk alat musik kacapi, di mana kacapi sebagai melodi dan bagi kami kolaborasi musik tradisional dan modern itu menghasilkan sesuatu yang lebih indah dan kreatif,
ungkap.
Amin db. Selaku
Narasumber.

Awalnya pemain kacapi hanya satu orang, di mana kacapi dibuat untuk menghibur dirinya sendiri, pada akhirnya seiring perkembangan zaman kacapi dijadikan sebagai pertunjukan dan hiburan seperti pada saat melaksanakan “korongtigi”.(pesta pernikahan). Kemudian pada perkembangannya pakacapi kadangkala dimainkan oleh 2 orang pemain kacapi tersebut duduk berdampingan saling menyaut lagu seperti “pantun”. dan pakacapi mulai populer kembali di tahun 60-80an,
ungkapnya.

Dahulu alat musik tradisional (kacapi) hanya dipakai dalam acara adat, sehingga sulit untuk mendapatkan alat musik tersebut namun sekarang mudah untuk mendapatkannya. Proses pembuatan kacapi membutuhkan waktu yang panjang dengan memilih bahan kayu terlebih dahulu kemudian merendamnya dengan air garam selama 3 bulan dan Bahannya menggunakan dari pohon nangka ada pula dari pohon bontang-bontang atau bance/Bangkala.

kacapi ini dapat bertahan hingga 50 sampai dengan 60 tahun bahkan bisa lebih lama lagi. Saya membuat satu buah kacapi selama 3 hari, dimulai dari pembentukan balok seperti ini sebagian besar kayunya disambung hanya beberapa bagian yang tidak disambung,
jelas Muh. Yusri Yusuf.

Jadi kacapi ini berasal dari pelaut dan pedagang dari Makassar di tengah kerinduannya terhadap orang-orang terkasih dan kampung halamannya yang merenung dan mendengarkan hembusan angin “angin mammiri'”. Sebuah pesan yang mengatakan “wahai angin bertiup semilir saya menitip pesan pada angin yang berhembus untuk kedamaian orang-orang Gowa,”
ungkap.
Dg.Tola selaku
Narasumber.

Dulu kacapi hanya memiliki 5 nada yaitu do re mi tidak memiliki fa langsung so kemudian la tidak juga memakai si. Sekarang para pemuda modern telah membuat kacapi dengan tangga nada yang lengkap.

Kami ingin meruntuhkan anggapan bahwa kecapi tidak dapat berkolaborasi atau diiringi dengan alat musik lain Kemudian kami mencoba lakukan hal tersebut dan ternyata hasilnya keren di mana kacapi kami tempatkan sebagai melodi.
ungkap
Amin Db selaku
Narasumber.

Jangan mengesampaikan adab dan tradisi karena kemarin adalah sejarah Besok adalah misteri tapi hari ini adalah anugerah bagi orang yang menjunjung tinggi adat budaya tidak akan terpengaruh oleh gempuran budaya asing.

Carilah Apa yang dimaksud Karaeng (Tu Malabbiri), Sayid (Tu Barani), Agama (Tu Baji’ Panggaukanna), Adat (Tu Baji’ Ampe-Ampena), Jati diri (Tu Matappa).

Dalam kisah Datu museng dan Deapati, di mana syair kacapi yang dilantunkan di gelapnya malamku terbangun mendengar petikan pakacapi. Syair yang begitu indah dan sulit mendapatkan maknanya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. di mana syair tersebut bercerita tentang Kerinduan dan kepiluan dirinya yang ditinggalkan oleh sang kekasih tentang perasaan seorang laki-laki yang meluapkan kerinduannya dalam sebuah lagu tentang kekasih atau istri dia tinggalkan. ini merupakan Pesan Cinta dari vokal kacapi inilah yang membuat saya merasa bahwa begitu kayanya budaya kita

Dalam kacapi ada pula lagu tarekat ” Kumantama’ mo ri junnu’ kamamempo ri satinja’ ku ma’dallekang ri itulayya ianjo ku masambayang ka sambayang ku battui ganna ruana singara’na nyawaya ka nyawaya erok ni asseng ma repa’ ni puji loji punna tena na ta’ lacci.

Dan sekarang sudah masanya yang dimaksud dunia akan dipenuhi kecurangan, dan akan dipilih orang-orang terbaik dan mereka adalah Yang berpegang pada tali Allah sebab merekalah yang akan ditugaskan untuk membangun dan mengembalikan adat istiadat.

Budaya kita di Sulsel memang lebih menggunakan tutur atau bercerita dari mulut ke mulut kepada cucunya. kalau ada yang mengatakan bahwa Kecapi berasal dari Cina Saya tidak setuju, karena bisa saja Cina yang mengikuti kita.

Jika sejarah kita di Gowa dibuka dan Perlihatkan kepada dunia maka sejarah lainnya akan tertutup, seperti yang dikisahkan ” negeri yang hilang”

Banyak hal yang belum terbuka tentang peradaban kita seperti banyaknya orang-orang Makassar di berbagai penjuru tempat di belahan bumi di mana Di setiap tempat perantauan kita akan menyebarkan hal-hal baik.

Seperti yang dituliskan dalam sejarah bahwa Marcopolo atau (saudagar asal Venesia Italia yang pertama kali mengelilingi bumi sekitar tahun 1300an) pada peradaban pelayaran kita jauh ada sebelum Marcopolo dan yang lainnya.
Ungkap.
Rahmat Dg kulle. Selaku
Narasumber.

BugisMakassar memang dikenal sebagai pelaut ulung pedagang ulet, dan petarung sejati, bukan penulis apalagi penyair tetapi dalam upaya pelestarian adat budaya dan sejarah tulisan menjadi hal yang lebih penting dibanding sekedar wasiat atau pesan dari mulut ke mulut sehingga kepedulian sejarawan budayawan dan kaum intelektual lainnya memiliki peran penting dalam hal ini Celakanya sebagian sejarawan dan budayawan Bugis Makassar mendelegitimasi sejarah-sejarah dan menjadikan hanya legenda rakyat bahkan dongeng 100 catatan pinggir Ahmad Pidris Zain 2008,
ujar Muh. Iwal Achmadi.

Artikel ini telah dibaca 34 kali

Supriadi Adi badge-check

Wartawan

Baca Lainnya

Kerjasama Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, MBS Gelar Gelar Diskografi dan Dialog Budaya

29 Maret 2024 - 04:36 WITA

Dekranasda Gowa Pamerkan Sarung Sutera Cura’ Labba di Inacraft 2024

1 Maret 2024 - 07:11 WITA

Aktualisasi Semangat Pemuda Pemudi Bontoala Dalam Karya Pentas Seni.

7 November 2023 - 09:47 WITA

I Marabintang Sang Pendekar Wanita Panglima Pasukan Balira

26 Oktober 2023 - 08:34 WITA

I MANNYENDERI DAENG PASAWI TU NI POSOA KARAENG BORISALLO

7 Oktober 2023 - 18:31 WITA

Berlangsung Meriah Dan Sukses, Narasumber Panggung Pakar KAHMI Gowa Tantang Lanjutkan Diskusi.

5 Oktober 2023 - 02:13 WITA

Trending di Budaya