Menu

Mode Gelap

Budaya ยท 20 Apr 2024 WITA

Royong Adalah Mafrifatullah Sastra Makassar


 Royong Adalah Mafrifatullah Sastra Makassar Perbesar

 

Baktioline.id, Gowa, Diskografi dan Dialog Budaya kembali dilaksanakan
Mitologi Bumi Sulawesi (MBS).
Dalam kegiatan ini, MBS bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Adapun tema yang diangkat adalah “Tradisi dan Religiusitas Budaya Royong”.

Diskografi ini dilaksanakan pada hari Jumat, 19 April 2024 di Jl. Usman Salengke Kav A No. 2 Sungguminasa, kantor Redaksi MBS.

Diskografi dan Dialog Budaya ini adalah salah satu dari tujuh paket kegiatan yang telah disepakati antara MBS dan Kemendikbudristek untuk dijalankan selama tahun 2024. Dialog ini adalah kegiatan kedua dari 10 kegiatan yang telah direncanakan.

Menghadirkan pemateri Dr Sumarling Rengko HR selaku Akademisi, Eka Yuniarsih, S.S, selaku Penggiat Budaya dan Kaharuddin Daeng Muji dari Dewan Kesenian Gowa.
Kegiatan ini dipandu oleh Musadikil Wahdi dan acara ini dibuka oleh Iwal Achmady selaku Direktur MBS.

Sumarling Rengko yang tampil sebagai pembicara pertama menjelaskan nilai-nilai religiusitas yang terkandung dalam royong.
“Royong adalah salah satu gendre sastra lisan Makassar yang sangat unik” ungkap Rengko.

Menurut Rengko, dalam royong yang berisi liris memiliki aspek religiusitas berfikir positif yang sangat tinggi yang tergambar dalam budaya masyarakat gowa. Hal ini, bagi Rengko, mencerminkan jika royong itu merupakan Mafrifatullahnya sastra Makassar.

“Dalam teks royong penuh dengan harapan dan doa sehingga nilai-nilai religiusitas di dalamnya sangatlah tinggi” kata Rengko.

Eka Yuniarsi selaku penggiat budaya memaparkan seperti apa praktek royong itu dilakukan dikalangan masyarakat Gowa.

Menurut Eka, royong adalah sastra lisan masyarakat Makassar yang dilaksanakan pada momen-momen tertentu. Bahkan, lanjut Eka, beberapa pelaku royong yang sempat di temuinya mengaku tidak ingin menyampaikan liris yang dilantunkan karena bisa membahayakan dirinya.

“Parayong itu sangat menjaga tingkat kesakralan dari royong itu sendiri, mereka tidak sembarang ingin melantunkan liris dari royong. Bahkan dalam melantukan royong ada tata cara yang pakem yang harus dilakukan” ungkap Eka.

Sebagai sastra lisan yang punya nilai religiutas yang tinggi, Eka berharapa royong harus dijaga dan tetap dilestarikan.

Kaharuddin Dg Muji, selaku Dewan Kesenian Gowa memandang royong merupakan sastra lisan yang berisi lantunan doa-doa kepada sang pencipta. Sehingga, menurut Muji, sapaan akrabnya, royong tidak bisa dipentaskan disembarang tempat dan sembarang orang. Ada kewajaran dan kepantasan yang melekat dari royong itu sendiri. Sekalipun, lanjutnya, royong juga merupakan seni yang ditampilkan dalam bentuk lisan.

Iwal Achmady selaku Direktur MBS dalam closing statementnya menyatakan, ketika sebagian orang menganggap royong sudah hampir punah saat ini, namun berdasarkan penelusurannya selama ini dalam menggali sejarah adat dan budaya di Sulsel, ternyata royong masih ada dan tetap terpakai hingga saat ini, sekalipun itu hanya pada momen tertentu.

Dialog ini berlangsung kondusif dan dinamis, mengingat perserta yang hadir dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas budaya, tokoh masyarakat, aktivis, akademisi, tokoh adat, pemuda hingga berbagai media turut hadir.

Berbagai tanggapan datang dari peserta dialog, hingga dialog berlangsung cukup interaktif, mengingat peserta cukup haus akan informasi tentang royong itu sendiri.

Acara ini dinilai oleh berbagai kalangan yang hadir cukup mengedukasi, hal terlihat dari peserta yang hadir melebihi dari target yang telah ditetapkan oleh pihak pelaksana dalam hal ini MBS. Telebih lagi, karena Ketua Yayasan Budaya Bugis Makassar, Ahmad Pidris Zain, menyempatkan hadir dalam acara ini di tengah jadwalnya yang padat. Pidris hadir di penghujung acara dan sempat memberikan spirit budaya kepada seluruh peserta dialog. Menurut Pidris, Budaya adalah benteng terakhir dalam menjaga keutuhan NKRI.

Artikel ini telah dibaca 37 kali

Avatar badge-check

Wartawan

Baca Lainnya

Road To School Edisi ke-3, MBS Kunjungi Salis dalam Program Kampanye Budaya

15 Mei 2024 - 17:02 WITA

Road To School Edisi ke-3, MBS Kunjungi Salis dalam Program Kampanye Budaya

15 Mei 2024 - 06:37 WITA

MBS Kunjungi SMA 14 Gowa Adakan Road To School Tentang Budaya

7 Mei 2024 - 20:46 WITA

MBS Gelar Diskografi Dan Dialog Budaya, Royong Ma’rifatullah Sastra Makassar

20 April 2024 - 04:13 WITA

Kerjasama Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, MBS Gelar Gelar Diskografi dan Dialog Budaya

29 Maret 2024 - 04:36 WITA

Dekranasda Gowa Pamerkan Sarung Sutera Cura’ Labba di Inacraft 2024

1 Maret 2024 - 07:11 WITA

Trending di Budaya