Gowa, baktionline.id
Suasana sejuk khas pegunungan Malino tak menyurutkan semangat para peserta dalam mengikuti Dialog Interaktif terbatas Intelectual Culture Discussion (ICD) tahap II yang digelar di New Tosil Cafe, Jumat (24/04).
Mengusung tema “Langkah Strategis Peradaban Gowa Menuju Kemakmuran Negeri”, kegiatan ini justru menghadirkan kehangatan melalui diskusi yang penuh gagasan dan refleksi budaya.
Dialog ini merupakan lanjutan dari ICD tahap pertama yang sebelumnya dilaksanakan di Cafe Kolamario, Sungguminasa.

Berbeda dari suasana sebelumnya yang dinamis di tengah kota, pelaksanaan tahap kedua di Malino menawarkan nuansa yang lebih tenang namun tetap sarat makna.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, penggiat budaya, hingga tokoh pemuda.
Kehadiran wajah-wajah baru turut memperkaya sudut pandang dalam diskusi yang berkembang semakin tajam dan mendalam.

Ketua Yayasan Budaya Bugis Makassar (YBBM), Ahmad Pidris Zain, hadir sebagai pembicara utama dengan paparan yang menekankan pentingnya peran budaya dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.
Diskusi dipandu oleh Sugianto Pattanagara yang juga bertindak sebagai moderator sekaligus inisiator kegiatan ICD.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh dan akademisi, di antaranya Drs. Suarga, MM, Dr. Gaffar, Muh. Ramli, M.Fadlan L. Manurung, Sadikil Wahdi, serta para pemerhati budaya lainnya.

Selama berlangsungnya dialog, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Meski udara dingin menyelimuti Malino, semangat untuk menyimak dan memahami materi diskusi seakan menjadi penghangat suasana.
Sugianto Pattanagara menegaskan pentingnya keberlanjutan forum ICD sebagai ruang pencerahan dan penguatan identitas budaya.
Anto, sapaan akrabnya menyebut bahwa diskusi yang terus berlanjut akan semakin mengerucut pada tujuan besar, yakni membangun peradaban berbasis nilai-nilai kearifan lokal.

“Dialog ini akan rutin kami lakukan sebagai bentuk pencerahan dan pengenalan nilai identitas keberagaman adat dan budaya sebagai wujud peradaban,” ujarnya.
Ia pun menyebut bahwa konsep ICD ke depan dapat berkembang menjadi sebuah “Sekolah Peradaban”, sebuah ruang belajar kolektif yang berfokus pada penguatan budaya dan pemikiran strategis untuk kemajuan daerah.
(Bawa Karaeng, Isra )











