Gowa, baktionline.id
Ada sesuatu yang menarik dari terpilihnya Kak Dr. Rahmansyah sebagai Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Gowa.
Bukan semata-mata soal pergantian kepemimpinan, melainkan tentang kembalinya seorang kader yang tumbuh, ditempa, dan meniti perjalanan panjang dalam dunia kepramukaan
Dr. Rahmansyah terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Cabang Luar Biasa (Muscablub) Gerakan Pramuka Gowa yang berlangsung pada Rabu, 4 November 2026.
Aklamasi tersebut menjadi penanda bahwa peserta Muscablub menghendaki sosok yang memiliki rekam jejak panjang dalam perjalanan kepramukaan untuk memimpin Kwarcab Gowa.
Kak. Rahmansyah bukan nama yang tiba-tiba muncul di panggung organisasi. Ia merupakan produk perkaderan yang berjalan berjenjang.

Mengenal Pramuka sejak Siaga, kemudian melanjutkan proses pembinaan di tingkat Penggalang, Penegak, hingga Pandega. Perjalanan itu tidak berhenti ketika masa pendidikan kepramukaan selesai. Justru dari sanalah pengabdiannya berlanjut.
Ia pernah menjadi bagian dari Dewan Ambalan, Dewan Kerja Ranting (DKR), Dewan Kerja Cabang (DKC), hingga Dewan Kerja Daerah (DKD). Sebuah lintasan organisasi yang memperlihatkan bagaimana pengalaman, tanggung jawab, dan kepemimpinan dibangun secara bertahap.
Dalam perjalanan berikutnya, Kak Rahmansyah memasuki wilayah pengabdian yang lebih luas. Ia menjadi Pembina Pramuka, kemudian Pelatih Pembina Pramuka, serta mengemban amanah sebagai Andalan Kwarcab. Pengalaman tersebut membawanya ke tingkat regional sebagai Sekretaris Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan.
Kini, ia juga tercatat sebagai Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Posisi yang menempatkannya dalam lingkaran kepemimpinan organisasi kepramukaan di tingkat nasional.

Namun, di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, ada satu hal yang menarik dari proses terpilihnya Kak Rahmansyah. Ia tidak serta-merta menawarkan diri untuk memimpin Kwarcab Gowa. Kesediaannya justru muncul setelah seluruh peserta Muscablub meminta dirinya bersedia menerima amanah tersebut.
Di titik inilah Muscablub Gowa menghadirkan cerita yang lebih dari sekadar forum pemilihan ketua. Ada panggilan pengabdian yang datang dari bawah, dari mereka yang menginginkan seorang kader kembali mengurus rumah tempat ia dahulu ditempa.
Kesediaan Kak. Rahmansyah menerima amanah itu dapat dibaca sebagai bentuk ketulusan untuk kembali ke daerah, merawat organisasi, dan melanjutkan proses pembinaan generasi muda melalui Gerakan Pramuka.

Sebab, menjadi pemimpin dalam Gerakan Pramuka bukan hanya perkara menduduki jabatan struktural. Ada tanggung jawab menjaga kesinambungan kaderisasi, memastikan proses pendidikan berjalan, serta memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh dan mengambil peran.
Kisah Kak. Rahmansyah sekaligus mengingatkan bahwa organisasi kepramukaan sesungguhnya memiliki jalur pendidikan kepemimpinan yang panjang.
Dari Siaga hingga Pandega, dari Dewan Ambalan hingga kwartir, setiap jenjang merupakan ruang belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, dan pengabdian.

Kini, Kwarcab Gowa berada di tangan seseorang yang pernah menjalani perjalanan panjang di dalamnya. Tantangan berikutnya bukan lagi soal bagaimana memperoleh kepercayaan, melainkan bagaimana menerjemahkan kepercayaan itu menjadi kerja nyata.
Pada akhirnya, seorang Pramuka boleh pergi jauh mengemban amanah di berbagai tingkatan organisasi. Tetapi ketika rumah tempat ia ditempa memanggil, kembali mengabdi adalah sebuah pilihan yang memiliki makna tersendiri.
Dari Siaga, terus berproses hingga tingkat nasional. Dan kini, kembali ke Gowa. Sebuah perjalanan panjang yang menemukan babak pengabdian berikutnya.
( Bawa Karaeng, Isra)







